pandeparwata

Just another WordPress.com site

Taman yang Hilang

sayang, rupanya embun perlahan menghilang

di balik dedaunan yang semalam kita pandangi

ketika kekupu hendak singgah

untuk sekedar melepas lelah

sayang, rupanya kelopak bunga yang kau ciumi di taman kita

telah menguning layu

bersiap untuk menyambut kematiannya

yang hanya menyisakan kenangan akan keindahan

perlahan keindahan yang kita nikmati

sirna seiring temaram yang menggantikan jingga senja

tapi apakah rindu akan jua hilang?

dari dada yang semakin sesak menahan isak?

Advertisements

November 19, 2013 Posted by | Puisi, Sajak, syair | Leave a comment

Melipat Rindu

sebab

perpisahan akan berbuah

rindu

dan terlipat dalam

hati yang haru

November 15, 2013 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Tentang Dermaga dan Kenangan

Bolehlah aku menciummu. Meski hanya sekali. Cukup sekali saja. Tak akan aku meminta lebih. Hanya sebatas kecupan disela alismu.

Atau perkenankan aku memelukmu, erat. Seerat tautan temali pada dermaga tua di pesisir utara. Dimana kunang-kunang enggan menyapa kenangan. Dan terhenti dalam buaian.

Mungkin saja kau masih sungkan. Malu-malu tersipu. Menahan deru bathinmu yang bergumam; “sudah kau ciumi saja dia, setubuhi dia seperti yang kau idam-idamkan, tatap matanya, dan lumat kenangan itu!”

Ah sudahlah, meski dermaga tak lagi dihampiri para saudagar. Kenangan itu kan tepat erat, tersimpul rapat, pada celah-vcelah ombak yang menghujam ringkih kayu tua.

October 7, 2013 Posted by | Puisi, Sajak, syair | Leave a comment

Posisi

Terkadang posisi ini tidak meperbolehkan penulis bergerak secara leluasa. Adanya batasan-batasan yang menjadi hambatan dan bahkan halangan dalam bertindak. Setiap desah nafas yang mengiringi langkah kecil tak pasti menuju ambang mimpi. Lalu dimana kemuliaan yang dijanjikan para tetua disetiap ceramah yang mereka elu-elukan sebagai pencerah hati, peneguh iman.

Nah kembali lagi pada posisi. Bukan misionaris maupun posisi baru hasil kreatifitas semata. Melainkan hanya perlambang dari rasa hormat, percaya dan diakui oleh yang meposisikannya. Posisi seperti ini sesungguhnya gampang-gampang susah. Yang pintar bisa menjilat atau yang berhati mulia bisa mendapatkan posisi yang selayaknya, karena yang meposisikan tersebut (mungkin) terketuk hatinya. Trus dengan si penjilat? Memang dasar, pihak yang meposisikannya itu merasa tersanjung. Geli-geli nikmat ketika dijilat.

Dalam berhubungan badan, entah berapa banyak jenis/macam posisi yang diketahui. Belum lagi yang bisa kita aplikasikan dari Kamasutra maupun serat centini. Tapi posisi yang penulis maksud ini bertolak belakang dengan hal tersebut. Menurut penulis, hanya ada dua posisi utama; dibawah-terinjak dan sejajar namun tak sama. Mengapa demikian? Jika orang diposisikan dibawah, sudah barang tentu orang tersebut hanya akan menjadi keset. Bahan celaan, dan bahkan kerap dijadikan bulan-bulanan. Yang selanjutnya adalah sejajar namun tak sama, kenapa? Haloo, dunia sudah bukan dunia hitam putih. Mana ada orang yang mau memiliki posisi yang sejajar dan sama satu sama lainnya. Orang-orang hanya akan berusaha saling menjatuhkan. Berusaha menunjukan kepribadian aslinya. Bahkan tak segan untuk menikam lawannya.

Kesimpulannya, kitalah yang menentukan posisi untuk diri kita. Mau dibawah atau bagaimana? Hanya saja, kebijakan dari kita yang selayaknya bisa mendominasi posisi maupun kepribadian tersebut.

Salam

July 29, 2013 Posted by | prosa, prose | , , , | Leave a comment

Teringat Sebuah Nama

namamu siapa;

biduan.

aku bukan siapa-siapa ataupun apa-apa. hanyalah raga. bukan angkara murka. pun berhala.

aku hanyalah nama. bukan siapa-siapa ataupun apa-apa.

bukan angkara murka. tak ada yang menyembahku bak berhala.

kau boleh memanggilku siapa saja. kau juga boleh menerka aku ini apa.

lalu siapa aku?;

kamu adalah aku. tanpa nama tanpa rupa tanpa raga.

bukan siapa-siapa dan apa-apa.

kamu adalah ketidakpastian. ketiadaan. kemunafikan.

semacam kotoran yang terabaikan.

July 8, 2013 Posted by | Sajak, syair | , , , , , | Leave a comment

Siluet

bolehkah aku menyeka peluh di bangir hidungmu?

;siluet, rupamu bukanlah bayang-bayang yang tak mungkin lenyap dari pandangan. pun ketika mentari menujuk ufuknya,bangir hidungmu kerap membuai ku hingga mimpi.

 

 

July 3, 2013 Posted by | Sajak, syair | 2 Comments

Mengapa

mengapa kau menghilang dalam rintihan malam sesaat setelah purnama menjelma kerinduan?

mengapa kau tiada ketika parau suara ibu memanggil anak-anaknya terdengar hingga ke desa seberang?

mengapa kau menganggapku batu disaat kau kupeluk, kucium bahkan kunodai berbalut tangis sendumu?

dan mengapa, hingga saat aku menghembuskan sisa nafas ini yang terlihat hanya samar tetesan airmata dalam rintik hujan yang membasahi anak-anak  berlari menuju peluk Ibu?

nelangsa; rupamu sudah tak teringat lagi.

bahkan aku tak sanggup untuk mengingatnya.

June 27, 2013 Posted by | Sajak, syair | 11 Comments

harapan

seberkas cahaya di penghujung rindu, itukah yang kau sebut;

harapan

June 21, 2013 Posted by | Sajak, syair | , | Leave a comment

Tentang Siwa

Yang terngiang hanyalah nyanyian siwa. Kumandang syair-syair puji sang dewa. Mengalun syahdu diantara senyum. Binar mata para manusia.

Yang tampak hanyalah tarian. Menggeliat tubuh, gemulai. Menerbangkan debu dari pertiwi. Puja-puja sang siwa.

Antara nyanyian dan tarian. Puja puja siwa. Syahdu mengalun diudara, lepas. Lemah gemulai menari-nari, bebas. Keabadian yang sesungguhnya. Dimiliki siwa. Dimiliki yang dipuja.

June 20, 2013 Posted by | Puisi, Sajak | , , | Leave a comment

Tiada!

Anggap saja bulan tlah terlelap. Dibawanya berjuta angan tentang kenangan. Seperti dilenyapkannya keraguan dalam bayang-bayang gerhana.

Anggap saja rembulan tak’an terjaga. Layaknya buaian manja yang tak terduga. Dan dekap hangat berbalut suka.

Sudahlah. Mungkin memang saatnya bulan beristirahat. Merabahkan sendi-sendi yang mulai menua. Yang kian waktu akan dikalahkan gerhana. Siapa tahu kenangan akan terbawa hingga batas ingatan. Yang sewaktu-waktu kan terkubur dalam genangan air mata duka. Tiada!

June 10, 2013 Posted by | Puisi, Sajak | , , | Leave a comment